Close
Free HTML5 Bootstrap Template

About Me

Arief Budi Santoso

For me the opportunity is the most important. I don't care about talent but I'm very concerned about the hard work.

Search

Ketika Berbicara Tentang Wujud Asli Setan
article

Ketika Berbicara Tentang Wujud Asli Setan

2015-08-10 14:38:50

Setiap orang pasti sering menyebut kuntilanak, tuyul, buto ijo dan sebagainnya itu dalam kategori setan. Padahal mereka itu bukan setan melainkan jin yang membentuk zat nyata didalam dunia agar mereka manusia dapat melihat mereka. Mereka sengaja menjadi zat nyata yang dapat dilihat manusia lain karena banyak hal, dimulai dari tempat mereka diganggu, iseng, ataupun mereka menjelma menjadi seseorang yang kita sayangi yang telah meninggal dunia. Intinya, stop mengatakan mereka itu setan.

 

Setan bagi diri saya adalah diri kita sendiri dimana itu adalah bagian diri kita ketika sedang marah, boros, berkata kasar dan lainnya. Ya, bagi saya Setan itu adalah hawa nafsu. Setan sudah pasti mengarahkan kita kepada banyak maksiat. Pernah saya bertanya pada diri saya sendiri, mengapa kita mempunyai malaikat munkar dan nankir, pencatat kebaikan dan keburukan. Menurut saya karena kita adalah khalifah sekaligus Setan didalam bumi ini. Kita bisa saja membuat damai bumi ini, berbuat baik, tolong menolong dan semua hal yang bersifat dengan kebaikan. Tapi kita bisa juga menhancurkan bumi ini, maruk akan kekayaan di dalam bumi ini, membunuh orang-orang di sekeliling kita hanya karena kita menuntut sesuatu yang kita inginkan tercapai, lagi-lagi hawa nafsu. 

 

Kadang logika ini mengatakan hal ini memang benar. Sebagai contohnya bulan Ramadhan, mengapa katanya setan dirantai tetapi masih banyak orang melakukan hal-hal yang keji? Karena menurut saya setan itu tetap di dalam diri kita, kita yang bisa mengatur, ya, kembali lagi setan itu adalah hawa nafsu. Banyak hal, buku, film yang memperlihatkan kita bahwa didalam diri kita itu ada 2 dunia, kebaikan dan keburukan, Yin dan Yang, Hitam dan putih. Tidak akan lepas bagaimanapun prosesnya. Kita sebagai manusia bebas memilih apakah kita akan mengukir garis putih saja atau hitam saja atau mungkin kita tidak sengaja mencoret dengan tinta yang berbeda, yaitu rasa bersyukur dan pasrah, warna yang bisa menerangi 2 warna lainnya menjadi sebuah pelangi yang indah.