Close
Free HTML5 Bootstrap Template

About Me

Arief Budi Santoso

For me the opportunity is the most important. I don't care about talent but I'm very concerned about the hard work.

Search

Sendiri
article

Sendiri

2015-08-02 02:08:54

Sendiri.

Kamu tau arti sendiri, teman?

Sepertinya kamu tau apa itu sendiri.

Tapi kini beda definisi sendiri itu.

Kita berbicara tenang value dr sebuah kesendirian yg aku maksud dan kamu maksud teman.

 

Aku memang tidak tau kamu dibelakang seperti apa, tapi yang aku tau org-org disekitarmu begitu memujimu, menemanimu dan menerimamu apa adanya. Jadi mungkin value sendiri yang kamu maksud adalah berfikir dan beristirahat sejenak.

Ya, dan itu hebat, sangat hebat menurutku yang selalu sendiri ini.

Kamu mungkin selalu melihatku bersama banyak orang, jutaan orang. Tapi sayangnya kamu tak tau siapakah orang-orang tersebut. Mereka adalah waktu teman. Mereka yang akan datang pasti berada di saat yang tidak tepat. Dimana ketika jiwaku penuh, aku tak bisa menampung mereka hingga akhirnya aku berpura² mengikuti alur jalan mereka. Tapi ketika aku berkata bisakah pelan sebentar atau istirahat sejenak, mereka tak mempedulikan aku. Dan yang terjadi aku hanya diam teman, diam di tempat yang sama dengan 2 pilihan yang sama-sama salah.

 

Linglung, tak tau arah kata para senior-senior kita di dunia. Bimbang kata saudara dan sanak family kita. Dan galau kata junior-junior bau tengik yang terus mempermainkan bahasa indah negeri kita. Aku diam, diam duduk dengan gelisah sambil meniup pelan tangan dingin dan gemetaran ini. Aku duduk dengan lesunya, bukan karena ingin mengemis, bukan juga ingin meminta-minta seperti orang jalanan di negeri kita. Aku duduk karena aku masih menunggu cahaya, menunggu harapan dan aku menunggu tujuan teman.

 

Aku menunggu seseorang yg bisa berada disampingku, mungkin menuntunku, mungkin mengangkatku atau mungkin dengan kasar menggelindingkan aku ke sebuah arah. Sebuah arah dengan tujuan, bukan dengan sebuah perputaran dentuman bait-bait waktu yg mengayam mengulang. Kembali ke saat yang sama, masa dan situasi yang sama. Mungkin aku sudah bermimpi tentang itu, mimpi berkelana untuk mencari ruang.

 

Tapi taukah kamu teman, tak ada kata bersama dalam hidupku. Perjalananku seakan hancur, remuk tak bersisa. Mungkin kamu yg terus bersamaku dan tak pernah tergantikan dalam mendengarkan keluh kesah dan ujian yg menghadapiku. Terkujur tubuhku dalam dinding anyaman yang dingin dan tak mampu bergerak ke berbagai penjuru arah. Hanya bisa diam ketika kamu pergi pelan-pelan membuang sedikit demi sedikit memori ingatanmu ke tiap sudut cahaya. Ya, kamu melupakanku.

 

Kamu pernah bersedih dan berkata, "hidup ini kejam yaa, kita ga tau bakal seperti apa kita nanti. Bisa menjadi seorang sahabat, rival ataupun musuh dalam peperangan.". Itu ketika kamu terjebak ruang dan waktu dalam kebimbangan hati ketika kamu ditolak dengan seseorang yang kamu ingin gapai ketika berpandangan disebuah kegiatan indah bersama. Terasa kaku dan dingin sikapmu pada masa itu. Hanya diam, berjalan, makan dan juga tidur tanpa ada sapaan dr mulut ataupun hatimu. Aku bisa merasakan itu teman, ketika kamu diejek dan diacuhkan menjadi sosok yang bimbang. Aku ingin sekali menghiburmu pada saat itu, tapi percuma kamu hamya menutup dirimu dengan segala halusinasi cintamu, sama seperti aku kini namun dengan beda dalam konteks permasalahannya.

 

Aku yang tidak bisa berjalan menuju terowongan gelap bak burung hantu yang takut akan sinar matahari, bergelagak berlari untuk mengejar sesuatu. Sesuatu yang aku sendiri tak pernah tau apa yang aku inginkan pada saat itu. Tapi tahulah kamu teman, aku tetap bisa berdiri dan terus mengumpulkan pecahan-pecahan memori yg kamu hilangkan. Aku mengumpulkannya karena aku tau kamu pasti suatu hari mengingat aku dan meminta kembali memori-memori ini. Aku berdiri dan berjalan sambil membawa toples berisi memorimu untuk terus mencari cahaya. Sebuah cahaya yang terus bisa menyinariku kembali sehingga aku semakin kuat dan terlihat nyata.